Di bawah naungan langit Jayapura, Papua, Kepala SD YPK Netar, Melkianus Wompere, teringat masa-masa ketika ujian berbasis komputer menjadi momok tersendiri bagi sekolahnya. Keterbatasan jaringan internet kala itu membuat para guru harus memboyong anak-anak didik menempuh perjalanan jauh ke sekolah lain demi mencari secuil sinyal. Biaya, waktu, dan kelelahan fisik terbuang hanya untuk mendapatkan hak paling mendasar di era modern, konektivitas.
"Sebelum ada bantuan akses internet, pada ujian berbasis komputer kami biasanya antar anak-anak sekolah ke suatu tempat yang ada sinyal internet dan itu membutuhkan biaya," kenang Melkianus dengan raut wajah haru.
Namun kini, bayangan rumit itu perlahan memudar seiring hadirnya bantuan akses internet langsung di halaman sekolah mereka.
"Ketika ada bantuan internet, kami sangat terbantu dan tidak perlu bawa anak-anak ini mencari sinyal ke sekolah lain," tambahnya tersenyum.
Anak-anak tidak perlu lagi berkelana mencari sinyal, sebab jendela pengetahuan dunia telah resmi terbuka di dalam ruang kelas mereka sendiri.
Tiga Pilar Pendukung Kehidupan Digital
Kisah sederhana dari ufuk timur Indonesia itu hanyalah satu dari jutaan benang cerita yang sedang ditenun di seantero negeri. Dalam dua tahun masa Pemerintahan Prabowo-Gibran, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) merajut fondasi besar transformasi digital yang berpijak pada tiga pilar utama: Terhubung, Tumbuh, dan Terjaga.
Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menegaskan bahwa transformasi digital tidak boleh lagi diukur sekadar dari seberapa banyak infrastruktur fisik yang dibangun atau berapa unit sistem yang diluncurkan. Nilai sejati dari sebuah perubahan teknologi justru terletak pada dampaknya yang terasa nyata dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Saat jarak menjadi makin dekat, layanan publik makin mudah dijangkau, dan ruang digital terasa makin aman untuk dihuni.
Dalam sebuah Forum Digital Ecosystem Alignment (DEAL) di Jakarta Selatan, Selasa (23/06/2026). Menkomdigi Meutya Hafid menggarisbawahi arti penting kebersamaan dalam membangun ruang siber bangsa.
“Karena semangat gotong royong menjadi nilai Indonesia sejak lahir sebagai negeri. Gotong royong adalah identitas asli kita yang kini harus kita bawa ke ranah digital melalui gerakan Merajut Solidaritas Digital Indonesia,” ungkap Meutya Hafid.
Komitmen itu ditegaskannya kembali saat berbicara di panggung dunia, menekankan bahwa martabat budaya bangsa harus tetap menjadi jiwa dari kemajuan teknologi. “Teknologi digital harus menjadi jembatan antara inovasi dan kebudayaan. Bahasa lokal, pengetahuan adat, dan komunitas lokal harus menjadi bagian dari masa depan digital,” serunya.
Terhubung
Pilar pertama, "Terhubung", bekerja layaknya benang lungsin yang menjadi pilar dasar dalam struktur kain rajutan. Langkah ini menghubungkan warga dengan warga, warga dengan negara, hingga antarsistem pemerintahan itu sendiri. Melalui pemerataan infrastruktur broadband, sinyal 4G kini telah menjangkau 98,96 persen populasi nasional, didukung keberadaan 6.747 BTS 4G yang khusus melayani wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Lebih dari 31.864 lokasi fasilitas publik, termasuk 21.722 sekolah dan 1.887 fasilitas kesehatan, kini telah terhubung internet. Bahkan saat musibah kebakaran terjadi di Bulak Banteng, Surabaya, layanan darurat integratif Call Center 112 membuktikan bagaimana konektivitas memperpendek jarak antara jeritan bantuan warga dan respons cepat petugas di lapangan.
Tumbuh
Konektivitas yang telah terpasang rapat tersebut kemudian diberi corak dan warna melalui pilar kedua, "Tumbuh", yang berfungsi layaknya benang pakan penentu motif kain. Akses internet tidak dibiarkan berhenti sebagai sarana komunikasi semata, melainkan dikembangkan menjadi mesin penggerak ekonomi, peningkatan keterampilan, dan efisiensi layanan publik.
Sinergi lintas sektor menjadi kunci agar mesin ini bergerak optimal, sebagaimana ditegaskan oleh Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Angga Raka Prabowo. “Pemerintah menyiapkan arah dan ekosistemnya. Industri menghadirkan investasi dan inovasi. Sementara seluruh insan Postel memastikan teknologi benar-benar hadir dan bekerja untuk masyarakat,” tutur Angga Raka Prabowo di Kantor Pusat PT Pos Indonesia, Bandung, Jawa Barat, Minggu (27/09/2026).
Di sektor pemerintahan, Sistem Penghubung Layanan Pemerintah (SPLP) berhasil memproses puluhan juta transaksi pertukaran data lintas instansi sehingga verifikasi perlindungan sosial yang tadinya memakan waktu bulanan kini dipangkas menjadi hitungan jam. Sementara di akar rumput, sebanyak 871.133 peserta telah terbekali melalui Digital Talent Scholarship (DTS) dan jutaan warga tersentuh program Literasi Digital. Mengurai kemajuan ini, dorongan terhadap startup nasional, industri gim lokal, hingga pemanfaatan kecerdasan artifisial melalui Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) dirancang agar talenta muda Indonesia tidak sekadar menjadi konsumen teknologi, melainkan pencipta nilai ekonomi baru.
Terjaga
Namun, seindah apa pun motif rajutan yang tercipta, ia akan cepat terurai apabila tepi kainnya tidak diikat dengan simpul yang kuat. Di sinilah pilar ketiga, "Terjaga", mengambil peran krusial untuk memastikan seluruh ruang digital Nusantara tetap aman, tepercaya, dan beretika. Langkah tegas ini diwujudkan mulai dari penerapan registrasi kartu SIM berbasis biometrik verifikasi wajah untuk melindungi identitas warga, penanganan lebih dari 4,03 juta konten judi online yang merusak sendi ekonomi keluarga, hingga penegakan kewajiban aturan PP TUNAS bagi penyelenggara sistem elektronik. Hasilnya, lebih dari 28 juta anak Indonesia kini mendapatkan perlindungan yang lebih ketat dari ancaman eksploitasi dan konten berbahaya di jagat maya.
Di tengah pesatnya arus informasi, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, mengingatkan pentingnya menjaga daya kritis dan kesadaran diri saat beraktivitas di dunia maya.
“Di tengah kemudahan kita untuk mendapatkan informasi di platform-platform media sosial ini, jagalah akal kita, jagalah daya pikir kritis kita, jagalah kewarasan kita, dan pakai dengan bijak untuk hal-hal yang positif,” pesan Nezar Patria saat di Sekolah Adat Srimusim, Lampuuk, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Jumat (04/09/2026).
Nezar menegaskan bahwa digitalisasi harus dimanfaatkan generasi muda untuk mengenal akar budaya serta membuka akses terhadap pengetahuan lokal, sehingga masyarakat adat dan komunitas daerah dapat hadir secara berdaya sebagai pemilik sekaligus pencipta pengetahuan di ruang digital.
Melangkah untuk Kesejahteraan Warga
Tiga arah yang dicanangkan pemerintah, terhubung, tumbuh, dan terjaga, menjadi komitmen bersama agar setiap capaian teknologi berujung pada kesejahteraan warga.
Perjalanan dua tahun merajut kehidupan digital Nusantara tentu bukanlah sebuah akhir cerita, sebab gelombang teknologi akan terus bergerak dinamis membawa tantangan baru seperti kecerdasan artifisial dan keamanan data. Namun, fondasi yang telah dibangun bersama ini meletakkan arah yang sangat jelas bagi masa depan Indonesia.
Ketika konektivitas terus membuka peluang baru, peluang tersebut melahirkan pertumbuhan nilai ekonomi, dan rasa aman membangkitkan kepercayaan publik, maka siklus transformasi digital akan terus berputar secara berkelanjutan. Komdigi berkomitmen untuk terus merajut benang-benang potensi di seluruh pelosok negeri, memastikan tidak ada satu pun warga Nusantara yang tertinggal dalam meraih kehidupan digital yang lebih mudah, berdaya, dan terlindungi.
Link sumber : https://www.komdigi.go.id/berita/artikel/detail/satu-rajutan-tiga-langkah-menjalin-kehidupan-digital-nusantara