(0362) 21146
kominfosanti@bulelengkab.go.id
Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik

Perkuat Tradisi Intelektual & Kebudayaan, Komunitas Mahima menggelar Konferensi Pers SLF 2026

Admin kominfosanti | 22 Juni 2026 | 71 kali

Upaya memperkuat posisi Kabupaten Buleleng sebagai daerah dengan tradisi intelektual dan kebudayaan yang kuat terus dilakukan melalui penyelenggaraan Singaraja Literary Festival (SLF) 2026. Pranata Hubungan Masyarakat Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik (Kominfosanti) Kabupaten Buleleng, I Gusti Ngurah Agung Darma Yudha, turut menghadiri konferensi pers SLF 2026 yang berlangsung di Komunitas Mahima, Senin (22/6).


Singaraja Literary Festival merupakan ruang pertemuan yang memadukan unsur edukasi, riset, kebudayaan, penelitian, dan hiburan dengan menjadikan kekayaan naskah kuno atau lontar sebagai basis utama. Festival ini hadir sebagai wadah untuk menghidupkan kembali nilai-nilai pengetahuan yang tersimpan dalam ribuan naskah lontar sebagai warisan intelektual Bali.


Founder Singaraja Literary Festival, Kadek Sonia Piscayanti, menjelaskan bahwa SLF berawal dari gagasan untuk menghadirkan ruang berkualitas bagi masyarakat Singaraja melalui kegiatan yang menghubungkan literasi, budaya, dan pengetahuan. Menurutnya, Singaraja memiliki potensi besar sebagai kota pendidikan dan intelektual untuk menjadi tuan rumah festival sastra dengan karakter yang berbeda.


“Festival ini berawal dari kerinduan untuk menghadirkan sebuah acara yang memadukan edukasi, riset, kebudayaan, penelitian, dan hiburan secara bersama-sama. Saya melihat potensi Singaraja sangat besar untuk menjadi tuan rumah bagi pertemanan yang berkualitas melalui ruang literasi,” jelas Sonia.


SLF 2026 mengusung tema “Sri Sasana” yang mengangkat nilai keseimbangan semesta. Tema tersebut tidak hanya dimaknai sebagai representasi energi perempuan Bali, tetapi lebih luas sebagai refleksi mengenai pentingnya keseimbangan dalam kehidupan manusia, khususnya bagi masyarakat Bali yang menjunjung keharmonisan antara manusia, alam, dan nilai spiritual.


Sonia menyampaikan, Singaraja Literary Festival telah mendapat perhatian secara nasional setelah masuk dalam jejaring konsorsium festival sastra nasional di Indonesia. Meski baru memasuki tahun keempat penyelenggaraan, SLF dinilai mampu menunjukkan potensi besar dalam membangun ekosistem literasi dan kebudayaan hingga tingkat nasional maupun internasional.


Pada penyelenggaraan tahun ini, SLF menghadirkan sebanyak 42 program dengan melibatkan ratusan pembicara, penulis, seniman, dan pelaku budaya dari dalam maupun luar negeri. Sejumlah penulis ternama turut berpartisipasi, termasuk penulis novel Gadis Kretek yang telah diadaptasi menjadi serial Netflix, serta berbagai sastrawan dan budayawan Indonesia lainnya.


Selain diskusi sastra, SLF 2026 juga menghadirkan beragam kegiatan seperti pertunjukan seni, pemutaran film, workshop, lomba baca puisi, musikalisasi puisi, lomba cerpen, hingga kegiatan peduli lingkungan.

Salah satu program unggulan dalam SLF 2026 adalah Manajemen Talenta Nasional, sebuah program dari Kementerian Kebudayaan yang berfokus pada pengembangan penulis cerpen wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebanyak 13 penulis dari tiga wilayah tersebut mendapatkan kesempatan mengikuti rangkaian kegiatan SLF sebagai bagian dari pengembangan talenta sastra nasional.


Penyelenggara mengajak masyarakat Buleleng untuk turut hadir dan berpartisipasi dalam seluruh rangkaian kegiatan SLF 2026. Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting agar festival ini dapat tumbuh sebagai kebanggaan bersama dan menjadi salah satu ikon literasi di Kabupaten Buleleng.